Kategori
Shopping

Pusat Perbelanjaan Diprediksi Kelam Sampai Akhir Tahun

Pusat Perbelanjaan Diprediksi Kelam Sampai Akhir Tahun

Penyemprotan Desinfektan Mal Aeon Dery Ridwansah 3 - Pusat Perbelanjaan Diprediksi Kelam Sampai Akhir Tahun

Pusat Perbelanjaan Diprediksi Kelam Sampai Akhir Tahun – Nasib pusat perbelanjaan diperkirakan akan terus memburuk hingga akhir tahun 2020. Penurunan ini tidak lain dikarenakan dampak virus corona yang bahkan membuat sejumlah pusat perbelanjaan ditutup sementara.

“Untuk dampak periode tiga bulan (terakhir) belum terlihat. Penurunan dari Q4 (kuartal empat Oktober-Desember) 2019 ke Q1 2020 (Januari-Maret) relatif datar, tapi sampai 2020 akhir kemungkinan akan terus turun,” kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto dalam video conference, Rabu.

1. Nasib ritel atau mal di luar Jakarta lebih parah 

Ferry mengatakan tingkat hunian untuk ritel atau mal di luar Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek) bisa lebih buruk nasibnya. Ia menyebut tingkat hunian mal di Bodetabek paling rendah bisa menyentuh 75 persen.

“Kalau dari pasokan 2020 tahunan, di Jakarta dan paling banyak di Bodetabek. Di Jakarta penutupan lumayan, tapi ini berlaku di Jabodetabek,” jelasnya.

Namun ia menambahkan angka ini disebutnya bisa terkoreksi karena masih ada waktu sembilan bulan lagi.

2. Penundaan pembukaan mal baru 

Ferry juga melihat ada tanda-tanda akan tertundanya pembukaan mal. Hal ini imbas penundaan pekerjaan konstruksi termasuk jadwal operasi, terutama untuk mal-mal yang diperkirakan beroperasi setelah 2020. Saat ini, ada 11 proyek mal yang akan beroperasi di 2020, tujuh di antaranya di luar Jakarta.

“Penundaan opening (mal baru) itu bisa terjadi kalau mereka melihat kondisinya tidak terlalu baik. Mal yang ada tutup, gimana dia bisa buka mal yang baru,” ujar Ferry.

3. Permasalahan tarif sewa 

Tarif sewa ritel juga menjadi perhatian. Pada Q1 2020 asking price atau tarif permintaan sudah menurun. Artinya, dalam rata-rata harga aktual bisa turun lebih dalam lagi. Ferry mengatakan meskipun secara grafik ada kenaikan tarif sewa, ini dikarenakan karena ada mal yang baru akan beroperasi.

“Mereka dari awal sudah menentukan kira-kira tarif sewa sekian di mana tarif sewa lebih tinggi dibanding mal sebelumnya. Karena rata-rata tarif di atas rata-rata pasar,” katanya memaparkan.

Sejumlah pengelola mal telah mendapat surat permohonan penundaan pembayaran sewa dari para retailer. Hal ini dinilai juga merepotkan pemilik mal karena mereka punya kewajiban membayar investasi.

“Tapi keduanya harus cari win-win solution, penurunan tarif sewa tidak bisa dhindari, tapi sebaiknya ketemu untuk mendapatkan harga sewa yang wajar,” kata Ferry.